Share Artikel

Share on facebook
Facebook
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email

Cerita Pendek Hadiah Natal 2021

Cerita Pendek Hadiah Natal Untuk Natalia

Cerita Pendek Hadiah Natal Untuk Natalia – “Menyukai memiliki arti melepas, mengikhlaskan apa yang kita punyai untuk diberi ke seseorang. Cinta itu bukan terima tapi untuk memberikan, memberi semua kebahagiaanmu ke orang yang memerlukannya, hal tersebut berlaku untuk orang yang kita sayangi.

Bukti jika kita menyukai seorang ialah berani melepas orang yang kita sayangi untuk kebahagiaan seseorang. Bila kamu dapat jalankan itu semua, kamu bisa menjadi individu yang masak dan pantas menjadi siswa Kristus yang setia”.

Berikut sepotong motivasi yang diberi rektorku saat saya melangsungkan Colloquium paling akhir. Dalam Colloquium itu saya bercerita pertarungan batinku yang hadapi dengan 2 opsi yang susah kuputuskan. Keputusan itu tentu saja terkait dengan cinta, yah, cinta yang “melepas” dan cinta yang” mengikat”.

cerita pendek hadiah natal

3 tahun saya melalui saat-saat cantik di seminari menengah, beragam narasi yang berisi pengalaman suka-duka sudah kulewatkan bersama rekan-rekan. Pengalaman itu sebagai dinamika hidup yang memikat buat diingat dan direfleksikan. Saat-saat akhir di seminari menengah bukan hal yang menyenangkan buatku, semua itu berlainan dengan yang kuharapkan dan kurasakan saat pertama kalinya masuk seminari. Bila pada periode awalan yang ada ialah kecerian dan kebahagiaan, akhir cerita berbicara lain, bukan kebahagiaan yang kurasakan tetapi kebimbangan dan kekhawatiran terus menghantuiku.

Akhir sinetron kehidupanku di seminari dilawan oleh seseorang yang tetap merasuk dalam daya ingatku, ia ialah Natalia. Natalia ialah gadis yang paling prima di mataku. Ia demikian elok, kecantikannya melampau batasan logika hingga susah untuk didefinikan. Ah, kemungkinan ini berkesan lebay, tetapi itu yang sebenarnya.

Kesempurnaan yang ada pada dianya membuat keinginanku tidak tertahan untuk memiliki saat pertama kalinya saya bertemu dengannya. Hadirnya dalam hidupku mewarnai tertentu membuat beberapa hari hidupku di seminari berasa demikian cantik. Kegiatan rutin harianku selalu dibarengi bayang-bayang mukanya, perihal ini pula yang membuat saya ingin selalu dengannya. Oh Tuhan inikah yang bernama cinta? entalah.


Beberapa detik akhir hidupku di seminari dibayangi ketakutan dan kekhawatiran. Jujur, benar-benar susah buatku untuk memutuskan untuk dua opsi yang hadapi kepadaku. Apa saya sampai hati melepas Natalia yang paling menyukaiku? apa saya mempertaruhkan panggilan saya yang saya rawat sepanjang 3 tahun karena hanya Natalia yang kujumpai cuman sebentar? Kebahagiaan yang kurasakan di pertama kalinya bertemu dengannya harus usai dengan cerita yang menyedihkan, saya harus pilih salah satunya antara dua kebahagiaan yang saya peroleh. Retret sepanjang satu minggu cukup buatku untuk memutuskan. Dengan berat hati saya pilih jalan panggilanku.

Opsi itu untuk satu harapan mulia yakni supaya saya dapat berkembang ke Ia. Tanggal 21 Juli sebagai hari akhir saya bertemu denganya. Saya tidak bercerita padanya mengenai keputusanku, aku juga tidak ucapkan salam perpisahan dengannya. Saya punya niat untuk pergi demikian saja. Pergi tanpa tinggalkan tapak jejak untuknya untuk dijelajahi.


Ini hari ialah hari awal buatku mengawali hidup di lokasi yang baru. Biara yah, nama yang bukan baru untuk orang katolik. Biara sebagai lokasi yang diidam-idamkan oleh tiap orang. Jadi imam ialah panggilan mulia. Pertanyaannya, apa semulia itu hatiku melangka di jalan panggilan ini?

Misa akseptasi angkatan baru dipegang oleh romo rektor. Injil ini hari bercerita mengenai Persyaratan ikuti Yesus. Dalam homilinya romo mengutamakan jika seseorang yang ingin ikuti Yesus harus tinggalkan segala hal, keluarga, harta, rekan, serta orang yang paling khusus.

Syarat yang paling akhir ini membuat saya terpikir kembali akan Natalia. Saat konsekrasi yang kubayangkan bukan mistis keselamatan Allah tetapi beberapa wajah manis Natalia yang selalu menghantui pikiranku. Beberapa hari kulewati dengan penuh kebimbangan. Waktu meditasi kuhabiskan dengan pikirkan Natalia. Di pikiranku, kadang yang kubayangkan Yesus, kadang Natalia. Ah Tuhan, belum beberapa langkah saya mengambil langkah, Kamu sudah menindih saya dengan beban yang demikian berat.


4 tahun sudah kulewati tapak untuk tapak perjalanan panggilanku. 4 tahun saya pergi tinggalkan Natalia. 4 tahun ialah saat yang cukup buatku untuk memendam semua kenanganku dengannya. Walau demikian dalam saya memendam memory itu dan usaha untuk melupakannya, tetap ia ada kembali. Perayaan natal memaksakan saya untuk kembali membuka masa lalu yang sudah saya pendam. Natal hari yang spesial, si Juruselamat lahir, idola hatiku rayakan ulang tahun. Prima. “Ah Tuhan demikian susah saya memandam rasa ini, saya demikian ingin menjumpainya, tetapi apa daya, saya tidak paham di mana ia ada sekarang ini. Tuhan jaga ia”.

Itu sepotong doa yang kuucapkan ketika natal datang. 4 tahun saya jalankan panggilanku dengan penuh kebahagiaan, kebahagiaan itu makin prima saat saya masuk tahun filsafat. Kegiatan rutin universitas dan kerasulan yang padat membuat waktu bergulir demikian cepat. Masuk perayaan natal saya mendapatkan kebun kerasulan yang baru. Saya dipercaya untuk menemani mahasiswa katolik yang umumnya ialah mahasiswa pendatang. Perayaan natal sebagai misa pembukaan kebun kerasulanku.


Perayaan ekaristi berajalan secara lancar dan semarak. Aku juga memiliki inisiatif menyalami umat yang umumnya ialah beberapa mahsiswa. Saat asyik saya bergurau canda sama mereka mendadak saya dengar suara seorang panggil namaku. Suara yang sejauh ini saya kangenin dan masih terekam baik pada daya ingatku. Saya terperanjak saat datang di hadapanku figur seorang yang saya kangenin sejauh ini. Oh Tuhan mimpi apa saya tadi malam. “selamat natal frat…wah sudah menjadi orang kudus yah, saya termenung.

Aku juga memberi respon panggilannya sekalian ajaknya untu menghindari dari keramaian banyak orang. “Nat, mafkan saya yah, saya,.. “telah kak, saya tidak perlu keterangan kaka. Saya telah mengetahuai semua, saya iklas akan semua keputusan kaka, dan saya tidak memiliki hak untuk menghadanginya, karena keputusanmu ialah keputusan yang mulia dan mulia.

Saya telah pikirkan semua itu saat pertama kalinya kita berjumpa, tetapi, satu perihal yang membuat saya sedih, kenapa kaka tidak menjelaskan semua dari sejak awalnya? beginikah langkah kaka jadi imam dengan sakiti seseorang? ” Maaf, Nat saya mau tak mau lakukan semua itu karena saya takut sakiti kamu.” Saya tidak mampu kembali meneruskan kata-kataku, saya cuman termenung dan usaha memandang mukanya yang seakan-akan menampilakan aura kedengkian padaku.

Tidak kusangka, di tengah-tengah kesunyian ia usaha untuk cairkan situasi. “Yah, jadi orang memiliki iman saya memiliki kewajiban untuk maafkan kaka, demikian kan yang diberikan Yesus ya Frat?. Saya menggangguk dan tersenyam. Sekarang saya sadar jika dibalik keluguan dan kecantikannya tertancap sikap ketulusan dan kerendahan hati. Benar-benar kamu ialah Maria yang terlihat, kataku dalam hati.

” By the way ini hari ulang tahun kamu yang ke 21 kan? selamat ulang tahun Yah Nat, maaf saya tidak memiliki hadiah khusus untuk kamu. Tidak apapun kak, saya mengetahui kok frater tidak memiliki uang tuk beli suatu hal, tidak boleh berlagak perduli donk” pintahnya sekalian tersenyum.

“Saya menanti hadiah yang paling khusus yakni tahbisanmu, bisa kan? Saya cuman dapat tersenyum tuk menyikapi permintannya. ” kak, tahu tidak, mengapa jika kaka kenakan jubuh keliatannya semakin cakep? Saya kebingungan untuk menjawab. “kak. Semunya itu terjadi, karena di pada diri kaka terpancar muka Kristus . Maka, jangan dibiarkan muka itu beralih dari hadapanmu, rawatlah dan bertekunlah dalam panggilanmu ” wow, Nat, kamu arif sekali, kamu jadi pembina rohaniku saja yah. ” bisa kok, siapa takut”. Semua sudah usai, tidak ada sakit hati, tidak ada yang berasa bersalah, cinta yang ikhlas sudah merusak kebekuan hati. Terimah kasih Tuhan Kamu sudah meberikan saya peluang untuk pahami makna cinta dan kesetian, terima kasih Nat, karena kamu sudah mengajarkanku makna ketulusan dan pengorbanan.

Cerita Pendek Hadiah Natal

Ini hari, 2 hari saat sebelum perayaan Natal, dan saya belum juga rasakan suatu hal yang lain. Situasi di dalam rumah masih sepi seperti beberapa hari biasa. Hingga saat ini ke-2 orangtuaku pulang kerja di tengah malam dan pergi bekerja ketika subuh saat matahari belum memperlihatkan dianya seperti umumnya.

Memang, orangtuaku sudah janji untuk mengadakan acara pesta skala kecil pada malam Natal. Tapi masih tetap, saya tidak memercayainya. Kemungkinan ke-2 orangtuaku akan lupa berkenaan acara pesta itu karena mereka terlampau repot dengan tugas mereka. Dengan malas saya raih smartphone-ku yang ada di depanku lantas mulai tekan nomor smartphone Mamaku. Sesudah sesaat menanti, pada akhirnya Mamaku mangangkatnya.

“Halo, Mah, saya pergi jalanan ke Mall ya..”
“Saat ini? Sama siapa?” bertanya Mama dengan suara melengkingnya yang unik.
“Ya, emm.. saksikan kelak saja lah! Saya meminta uang yah?!” maunya sich saya pergi sendiri.
“Untuk apa? Memang tidak dapat apa pakai uang kamu dahulu? Kamu kan tidak tahu Mama nyimpen uangnya di mana! Sudah yah! Berhati-hati! Janganlah lupa pintunya digembok! Bye!” suara Mama kedengar seperti orang yang tergesa-gesa.
“Tetapi kelak gantiin ya?”
“Iyah! Sudah ya, bye,”
“Bye,” teleponnya juga ditutup.

Kerja, kerja, kerja, pikirku. Tidak ada yang lebih bernilai dibanding tugas. Aku juga ganti pakaian, mempersiapkan barang yang hendak dibawa, dan pergi. Pada akhirnya saya bisa jalanan sesudah demikian lama orangtuaku tak pernah ajakku jalanan.

Mall yang ingin ku incar memanglah tidak terlampau jauh dari tempat saya tinggal. Tetapi cukup, sekedar untuk bergembira. Saya mulai telusuri jalanan kota yang dipenuhi dengan warga yang berakhir-lalang. Sesudah beberapa saat jalan, sampai juga saya di mall itu. Saat saya masuk mall itu, hal pertama kali yang ku ketahui ialah hiasan Natal yang terpajang di mana saja.

Di mall saja dapat mendatangkan situasi Natal di tengah mereka, kenapa keluargaku tidak dapat? pikirku. Arah pertama kaliku di mall itu ialah sebuah restaurant kecil yang kerap ku datangi. Saya masuk restaurant itu dan ku temui semua pengunjung di restaurant ini sebagai keluarga-keluarga yang bergembira nikmati berlibur. Panorama semacam ini sudah pasti benar-benar mengusikku.

Saya lalu pesan makanan, lalu secara cepat saya menyantap semua makanan tersebut lantas melunasinya. Aku juga langsung ke luar karena saya tidak sukai dengan panorama di restaurant itu. Masih tetap ada beberapa saat saat sebelum malam terlampau terlarut. Saya memilih untuk berkeliling sesaat dan beli barang-barang yang ku harapkan. Saat senja makin terlarut, saya pulang ke rumah. Sesampai di dalam rumah, tidak ada pertanda kedatangan orangtuaku. Saya pergi mandi, ganti pakaian, dan tidur.

Cahaya matahari yang tembus gorden jendela menggugahku pada hari saat sebelum Natal ini. Situasi rumah benar-benar sepi hingga saya bisa dengar secara jelas suara detak jam. Saya ke luar dari kamarku untuk cari makan pagi di kamar makan. Di situ, saya menyaksikan sepiring nasi goreng dan satu gelas susu. Di sebelahnya ada selembar kertas yang ada tulisannya. Selanjutnya saya membaca tulisan di kertas itu. Tulisan di kertas itu mengeluarkan bunyi:

“Lucy, ini hari ialah Malam natal. Maaf, Mama sama Papah tidak dapat liburan ini hari, tetapi Mama sama Papah akan usaha untuk pulang bisa lebih cepat agar kita dapat makan malam bersama dan ganti hadiah. Kemungkinan Mama dan Papah akan pulang sekitaran jam 7. Makan pagi untuk kamu sudah Mama siapin. Jika buat makan siang, Mama sudah siapin uangnya di amplop di meja makan. Jika ingin pergi-pergi berhati-hati! Janganlah lupa kunci pintu, tidak boleh main api! jika terjadi apa-apa, cepat telephone Mama atau Papah! -Mama.”

“Hah? Seriously? Malam Natal dan saya sendiri? Lagian jika Mama sama Papah tidak dapat pulang yang 7 memiliki arti acara makan-makan sama tukeran kadonya tidak jadi donk? Ah, payah!” saya bersungut-sungut sambil menghempas diri ke bangku meja makan dan melahap makan pagi yang telah dipersiapkan.

Ini hari sebagai hari terbosan yang sempat saya alami di selama setahun hidupku. Saya cuman bisa habiskan waktu dengan melihat tv atau bermain smartphone. Saya memanglah tidak sukai membaca buku dan saya tidak punya niat ke mall dengan argumen untuk mengirit uang tabunganku yang telah tipis. Saya cuman ke luar rumah untuk beli makan siang. Lantas kemudian saya tidur usaha untuk menyingkat waktu.

Suara bel rumah mengagetkanku hingga saya bangun. Saya menyaksikan jam dan waktu memberikan jam 19.45 malam. Saya bertanya dalam hati apa yang membunyikan bel ialah orangtuaku? Akankah acara makan malam dan ganti hadiah masih tetap diadakan meskipun waktu hampir capai jam delapan malam? Saya membuka pintu rumah dan betul apa yang saya sangka. Itu ialah Papah dan Mamaku. Kantung-kantung plastik besar bergelantung di ke-2 tangan mereka semasing.

“Pah, Mah?”

Saya ingin sekali menanyakan berkenaan barang bawaan mereka masing-masing tapi entahlah kenapa lidahku kelu.
“Lucy. Maaf ya, barusan di restaurantnya yang lama! Benernya kami sudah usai di kantor dari jam lima barusan,” tutur Mama sekalian berjalam masuk ke rumah. Rasa mulai resah menyelimutinya diriku. Bagaimana ini? Saya tidak membelikan hadiah untuk Papah dan Mama. Rupanya semua pikiranku salah. Papah dan Mama betul-betul serius untuk mengadakan acara ini.

“Lucy, tolong simpan beberapa makanannya ke piring, Mama ingin mandi dahulu,”
“Ehmm.. oke,” Saya cuman bisa mengikuti apa yang Mama suruh. Sepanjang mempersiapkan makanannya, jantungku terus berdegap dengan kuat dan saya bisa rasakan keringat yang mengucur dari mukaku.

“Hadiah-hadiahnya di atur saja di ruangan tamu!” hebat Papah sesudah kami semua usai mandi.
“Em, Pah, saya sudah laper nih! Bagaimana jika kita makan dahulu?” ucapku usaha untuk mengulur waktu.
“Ya sudah dech, Pah, ini kan sudah jam delapan, Lucy tentu sudah laper sekali. Mama sudah laper, belum makan apapun,” Begitu bersyukurnya saya atas pembelaan Mama. Saya sudah lapar.

Makan malam kali itu diawali dengan doa bersama. Kemudian makan malam berjalan dengan sunyi. Benar-benar tidak ada kata juga yang terkata dari mulut kami. Keheningan itu juga masih tetap berjalan sampai makanan dalam piring kami telah habis. Acara setelah itu ganti hadiah.

Di ruangan keluarga, telah tersusun 4 buah balok hadiah. Begitu malunya saya bila saya akui jika saya tidak beli hadiah untuk ke-2 orangtuaku? Saya masih berpikiran, apa saya harus bohong? Tetapi bila saya bohong, apa argumen yang hendak saya pakai? Jika saya jujur, Mama dan Papah tentu akan geram. Tetapi, itu bukan salah saya juga. Toh Papah dan Mama tak pernah ngadain acara seperti ini.

“Lucy, mana hadiah dari kamu?” bertanya Papah yang mengagetkanku.
“Emm.. Hadiah.. hadiah.. em, saya belum membeli hadiah. Hee…hee,” pada akhirnya saya memilih untuk jujur.
“Loh? Kamu tak ingat jika bakal ada acara ganti hadiah?” saya bisa menyaksikan kekesalan di suara berbicara Papah.
“Bukan lupa sich… Tetapi kupikir Papah dan Mama emm.. gagalin acaranya. Awalnya saya tidak terlampau percaya jika acara itu akan maka ” saya rasakan jika mukaku mulai memeras.

“Mustahil donk. Ya, memang Papah sama Mama kerja lagi hingga hari Natal, tetapi jika Papah sama Mama telah janji, mustahil Papah dan Mama ingkar. Jika sampai tidak jadi memiliki arti benar ada hal yang tidak dapat diundur. Lagian, beberapa tahun kemaren Papah sama Mama tidak janji kan?” Papah menerangkan panjang lebar.
“Yah, terus bagaimana?” saya tidak dapat menjawab apapun dengan panjang lebar.
“Ya ingin bagaimana kembali? Kamu ingin beliin hadiah buat Papah sama Mama malem-malem?” Mama yang dari barusan diam turut menyahut.

“Ya tidak, terus ingin ditukarin apa?” saya bisa rasakan jika suaraku dipenuhi dengan penyesalan.
“Papah dan Mama tidak perlu barang, tapi cukup hanya peralihan sikap kamu, itu cukup. Saat ini kamu kan sudah tahu kamu salah apa, beberapa hari nantinya kamu tidak boleh lakukan kembali!”
“Ya sudah. Mah?”
“Apa?”
“Uang yang saya pakai buat berbelanja tidak perlu ditukarin dech,”
“Ya sudah. Saat ini kamu membuka hadiah dari Mama sama Papah ya,”

Pada akhirnya malam itu, malam yang kupikir benar-benar menjemukan, saat ini sudah jadi malam yang paling memiliki makna dan penuh makna. Di Natal tahun ini, saya sukses mengartikan apakah itu makna Natal. Saya belajar berkenaan kedewasaan dan bagaimana menjadi sabar. Saya sudah membuat janji untuk ke diriku sendiri, jika saya akan jadikan periode laluku sebagai pengalaman untuk belajar, bukan jadi batu penghambat untuk diriku berbeda.

Saya jadi lebih menghargakan apa yang orangtuaku sudah kerjakan. Untuk semuanya saya berasa benar-benar mengucapkan syukur karena saya diberi sebuah hadiah Natal dari Tuhan berbentuk pengalaman yang demikian bernilai dan bisa mengubah kehidupanku jadi lebih baik.

Progress Baca Artikel