Share Artikel

Share on facebook
Facebook
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email

Cerita Pendek Menyambut Hari Natal

Mendekati hari raya Natal, kamu dapat bercerita beragam cerita pendek menyambut hari natal yang dapat dibagi melalui sebuah cerita simpel yang gampang dipahami oleh anak-anak.

Cerita anak-anak bertopik Natal ini dapat mengusung pokok sari dan memperkenalkan arti Natal untuk anak-anak dan bisa juga sebagai pengingat untuk kita sendiri mengenai beberapa hal paling penting dari perayaan Natal ini. Deskripsi kesederhanaan, ketulusan dan sama-sama mengasihi menjadi pola hidup yang perlu diperkembangkan bahkan juga di beberapa hari kita selanjutnya.

Cerita Pendek Menyambut Hari Natal

Berikut beragam cerita Natal anak yang dapat kita bagi untuk memperkenalkan arti Natal yang sebenarnya:

Cerita Pendek Menyambut Hari Natal : Malam Natal Jane

Hari ini malam natal. Jane dan beberapa temannya sedang bergabung di halaman gereja. Mereka mengulas adat natal di keluarga semasing.

“Tiap malam natal, saya dan keluargaku memasangkan pohon natal lalu membuat kue natal,” sebut Isabelle.
“Jika saya, tiap malam natal papah selalu membacakan beberapa buku rohani yang barusan dibeli,” sebut lainnya.

Tetapi sejak dari barusan Jane cuman diam mematung. Jika malam natal, ke-2 orangtuanya selalu membagi hadiah pada anak-anak dalam suatu panti bimbingan. Dan Jane dan kakaknya menyanyi pada acara gereja. Keluarga Jane jarang bergabung di waktu malam natal.

“Kenapa tidak ke gereja?” bertanya mama Jane.
“Saya telah bekerja menyanyi barusan sore,” jawab Jane.
“Jika demikian turut papah dan mama ke panti bimbingan yok!”

Jane menggangguk walaupun sebetulnya dia mau tak mau. Orangtuanya kerap ajak Jane untuk turut menolong membagi hadiah di panti bimbingan, tetapi selalu ditampik oleh Jane.
Sesampai di panti bimbingan…
Anak-anak balita berlarian suka sesudah terima hadiah. Dan Jane cuman duduk di pojok ruang.

“Terima kasih ya,” sebut seorang anak wanita seumuran Jane.

“Karena keluarga kalian, anak-anak di panti bimbingan ini dapat berbahagia mendapatkan hadiah natal. Dahulu, kami jarang-jarang dikasih hadiah natal.”

Jane juga tersadarkan, rupanya hal yang sudah dilakukan orangtuanya bisa menyenangkan sama-sama. Sama seperti yang diberikan Yesus, yakni jadi jelas dan garam dunia.

Jane pada akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan selekasnya susul ke-2 orangtuanya untuk menolong menghadiahkan ke anak-anak kecil. Dan semenjak waktu itu, tiap malam natal Jane tiba ke sejumlah panti bimbingan dan membagi hadiah-hadiah untuk anak-anak.

Cerita Natal untuk Anak-Anak: Gadis Penjual Korek Api

Cerita yang dicatat oleh Hans Christian Anderson ini sebagai salah satunya cerita yang memilukan saat malam mendekati Natal. Gadis ini telah kehilangan orangtua dan neneknya dengan hidup yang simpel. Kerjanya tiap hari yakni jual korek api. Di suatu malam bersalju, tanggal 24 Desember, di mana semuanya orang sedang bahagia karena rayakan malam natal, sang gadis penjual korek api ini masih tetap bekerja jual korek api di jalanan.

Gadis ini menggigil kedinginan hingga ia terus membakar korek api berjualannya sekalian rindukan keluarganya. Saat api dihidupkan, ia menyaksikan neneknya dan minta neneknya untuk bawa ia pergi bersamannya. Dengan penuh kasih-sayang, neneknya mengusung ia kepelukannya, mereka berdua terbang lama-lama semakin tinggi, terbang kesebuah lokasi yang hangat dan tidak berasa kelaparan kembali. Gadis ini telah wafat pada malam mendekati natal, dan ditangannya masih terpegang korek api yang terbakar.

Cerita Pendek Menyambut Hari Natal : Cerita 3 Pohon Natal

Cerita 3 pohon Natal ini mengajari kita dan anak-anak agar jangan sampai memandang kita kecil dan tak berarti, dan untuk selalu menaburkan kebaikan, kasih dan gembira untuk beberapa orang disekitaran, dan kedatanganmu akan memberikan makna untuk beberapa orang. Menceritakan mengenai 3 pohon Natal dalam suatu toko dimulai dari ukuran besar, sedang, dan kecil.

Pohon Natal besar pertama menyombong diri karena diburu banyak orang dan ditempatkan di tengah mall. Ia berasa suka tetapi pada akhirannya ia mengetahui jika semuanya orang cuman ingin menyaksikan dan tinggalkan pohon Natal besar itu karena repot belanja dan mengobrol. Ia pada akhirnya bersedih karena tidak dapat memberikan kesan-kesan dan makna untuk beberapa orang di Natal ini.

Pohon Natal Sedang ikut juga menyombong diri karena ia cepat dibeli oleh seorang, tapi cuman ditempatkan di lobi sebuah kantor.Orang yang melalui cuman menyaksikan pohon itu sesaat saja lalu tidak perduli karena semua repot. Dan besoknya, kantor itu sepi karena liburan Natal. Pohon Natal Kecil pada akhirnya dibeli dengan seorang ayah yang simpel.

Pohon itu berpikiran jika ia tak berarti untuk beberapa orang. Tetapi rupanya ia salah. Bapak itu bawa pohon natal kecil ke sebuah rumah kayu. DI rumah itu ada opa, oma, papah, mama, kakak, adik, bahkan juga ada pula om dan tante. Mereka sudah bergabung untuk rayakan natal. Pohon natal itu di tempatkan di tengah-tengah ruang. Lantas saat malam natal semuanya orang di rumah itu bergabung melingkari pohon natal kecil itu sekalian menyanyi dan menyembah Tuhan. Semua terlihat senang bahkan juga terhitung pohon Natal kecil itu.

5 Cerita Pendek Fiksi Bertopik Natal Sayang Untuk Dilewatkan

Situasi Natal demikian membahagiakan sampai rasanya tidak ingin peristiwa khusus ini segera usai. Supaya situasi Natal makin berasa, berikut 5 Digital referensikan fiksi-fiksi bertopik Natal yang siap untuk temani berlibur Natal dan tahun barumu.

Persiapkan status paling nyaman, satu cangkir minuman favoritmu, dan siap-siap tinggal landas ke alam khayalan dengan beragam cerita membahagiakan di hari Natal!

  1. A Christmas Carol
    A Christmas Carol sebuah cerita pendek classic yang dicatat oleh Charles Dickens dan keluar pertama kalinya di tahun 1843. Buku ini jadi bacaan di hari Natal yang legendaris dan sudah diadaptasi juga ke film.
    Fiksi ini menceritakan Ebenezer Scrooge, seorang pria tua pelit yang didatangi oleh hantu dari bekas rekanan usahanya Jacob Marley dan arwah Natal dari masa lampau, masa kini dan periode mendatang. Sesudah lawatan itu, Scrooge beralih menjadi figur yang lebih ramah dan halus.
  2. A Kidnapped Santa Claus
    Cerita classic dari penulis populer The Wizard of Os, L. Frank Baum, kembali diadaptasi oleh Alex Robinson berbentuk novel grafis. A Kidnapped Santa Claus bercerita beragam kejadian yang tidak umum terjadi di dunia Santa Claus.
    Beragam setan bersekongkol untuk melarikan Santa Claus karena dia sudah membuat anak-anak berperangai baik hingga tidak ada yang berkunjung gua tempat setan tinggal.
    Lalu, apa iblis sukses melarikan Santa Claus?
  3. Hercule Poirot’s Christmas
    Penulis novel mistis terkenal Agatha Christie membuat cerita dengan topik khusus Natal. Hercule Poirot’s Christmas mengusung kasus pembunuhan yang diperkirakan dengan benar-benar jeli, dilaksanakan dengan cemerlang, tetapi… kebanyakan darah!
    Pria tua namanya Simeon Lee mengundang semua keluarganya untuk rayakan Natal bersama. Dia membuat selingan untuk dianya dengan permainkan gairah serakah mereka yang rupanya malah membawa pada kematian.
  4. The Best Christmas Pageant Ever
    The Best Christmas Pageant Ever sebagai fiksi classic best-seller kreasi Barbara Robinson. Keluarga Herdmans ialah anak-anak ternakal di dunia. Mereka bohong, mengambil, merokok, berbicara kasar dan memukul anak-anak lain.
    Tidak ada yang menduga anak-anak ini ke gereja dan memilih untuk ikut dalam perlihatkan natal tahunan. Seperti apakah serunya, ya?
  5. Tinderella: Cinta dan Fenomena Natal
    Beberapa orang menunggu Natal tetapi tidak seluruhnya siap menyambutnya. Ada yang bikin pusing siapa yang hendak digandeng ke acara pesta Natal, ada yang tidak mau pulang dan berjumpa dengan keluarga saat Natal, ada yang kehilangan dan ada yang memperoleh.
    Buku Tinderella: Cinta dan Fenomena Natal berisi kelompok cerita yang dicatat oleh Stephanie Zen, Dharmawati Chen, Putu Felisia dan penulis fiksi yang lain.
    Beberapa tokoh dalam fiksi ini dilukiskan harus hadapi halangan sekitar cinta dan fenomena Natal.

Gadis Kecil dan Sebuah Kotak Emas

Cerita pendek ini bercerita mengenai seorang gadis kecil yang ingin memberi hadiah Natal untuk ayahnya. Keluarganya simpel, dan ayahnya terlihat kecewa pada gadis kecil berumur 3 tahun itu karena ia barusan habiskan uang untuk beli kertas hadiah emas untuk membuntel sekotak hadiah.

Besoknya saat hari Natal, anak itu memberi hadiah itu ke ayahnya dan saat dibuka, ayahnya lebih geram karena tidak ada didalamnya. “Apa kamu tidak paham, jika kau menghadiahkan hadiah pada seorang, kamu harus memberikan sebuah barang dalam kotak ini!” kata ayahnya.

Gadis kecil itu memandang ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Dia berbicara sekalian tersedu-sedu, “Tetapi ayah, sebetulnya saya sudah menempatkan suatu hal ke kotak itu.”

Ayahnya membentaknya karena kotak hadiah itu pasti kosong dan anaknya sudah habiskan uang banyak. Tetapi, anaknya berbicara, “Ayah, benar-benar saya telah menempatkan nyaris beberapa ribu kecupan untuk ayah ke kotak itu,” Ayahnya terharu dan merengkuh gadis kecil itu. Banyak bercerita jika, pria itu selalu menempatkan kotak hadiah itu di tepi tempat tidurnya sampai akhir hayat.

Kapan saja dia alami kekesalan, geram atau beban yang berat, dia memikirkan ada beberapa ribu kecupan dalam kotak itu yang mengingati cinta anak wanitanya. Ini mengingati kita jika tidak ada yang lebih cantik dan bernilai dalam kehidupan ini selainnya cinta dari beberapa orang paling dekat kita.

“Terjebak” di Rumah Nenek

Namaku Jordan. Saya anak band yang cukup populer di kotaku. Kami sudah manggung dari 1 sekolah ke sekolah yang lain. Natal tahun ini anak-anak band-ku penginnya berlibur ke Hongkong.

Saya sich tidak turut, masalahnya orangtuaku meminta saya sesekali berlibur di dalam rumah nenek, sudah jarang-jarang ucapnya. Ingin bagaimana kembali, dibanding jadi berantem mengurusin berlibur doang.

“Ah sayang ya, mereka ke Hongkong dan saya terjebak di sini,” pikirku dalam hati. Saya baru dua hari di sini, tetapi saya sudah bosen saja. Di dalam rumah nenek tak ada lokasi hiburan jenis mall atau theme park. Paling banter taman atau restaurant di tepi jalan. Bagaimana saya tidak bosen, coba? Untuk anak kota besar seperti saya, semuanya terlampau menjemukan.

“Ma, mereka asyik ya ke Hongkong Disneyland. Nih simak dech beberapa foto mereka. Mereka bahkan juga membeli oleh-olehan yang tak ada di sini,” kataku mengungkapkan kesedihanku melihat teman-temanku berlibur ke Hongkong.

“Iya Jor, bagus donk mereka have fun disitu, dibanding sudah jauh ke Hongkong justru tidak senang.”
“Tetapi ma, mereka ngomong kurang asyik kalau tak ada saya. Di sini tak ada apapun, ma.”
“Yailah Jor, begini saja ngeluh. Gapapa lah di dalam rumah nenek, berlibur ini kali. Kita sudah jarang-jarang ngunjungin nenek.”
“Ya sudah dech, ma.”


Sehabis pulang misa sore Malam Natal, saya memilih untuk keliling kota sendirian. Saya pinjam motor ponakanku, lalu mengawali perjalananku. Karena jam di pergelangan tanganku memperlihatkan jam 7 dan perutku mulai keluarkan beberapa suara, aku juga singgah untuk makan di warung makan seafood yang memikat perhatianku.

Setelah makan saya jalan tidak pasti arah. Sampai juga saya ke sebuah pasar yang jual beragam jajan. Saya beli kembang gula dan mengkonsumsinya sekalian kembali jalan. Saat menanti crepe pesananku dibikin, saya melihat-lihat situasi pasar itu. Itu ialah pasar yang lumayan ramai. Jalan yang tidak besar itu dipenuhi oleh stand-stand jajan yang murah dan unik, bersamaan dengan malam saat sebelum liburan hari Natal.

Saat itu saya dengar suara nyanyian dan gitar. Saya melihat ke stand es cream yang berada tidak jauh dari stand crepe ku dan kusaksikan seorang anak wanita sedang mengamen sekalian membawa sebuah lagu yang kerap dinyanyikan di gerejaku.

“Alangkah berbahagianya hidup rukun dan damai, dalam persaudaraan seperti minyak yang wangi…” demikian lagu yang dinyanyikannya. Saya terheran dengar suaranya yang terbiasa dan keahliannya mainkan gitar.
Kudekati ia dan kutepuk perlahan pundaknya.

“Izin dik, bisa saya berkenalan dengan kamu?” ucapku sekalian mengulurkan tangan.
“Eh, oh, iya kak, bisa,” ucapnya sekalian menyambut juluran tanganku.
“Namaku Jordan, nama kamu siapa?”
“Namaku Ningsih, kak.”

“Saya tertarik dengar suara dan permainan gitarmu yang bagus. Kamu belajar darimanakah?”
“Terima kasih, kak, saya belajar main gitar dari rekan sama-sama ngamen. Kalau nyanyinya mah pengalaman saja.”
“Saya tertarik juga denger lagu yang baru kamu nyanyiin. Ada yang ngajarin kamu?”
“Oh itu, saya kerap singgah di depan gereja Katolik di Jalan Blimbing. Saat buyar misa saya kerap ngamen disana. Saya sendiri bukan Katolik, kak. Saya kerap denger lagu mereka hingga saya jadi tahu banyak lagu gereja. Kakak orang Katolik?”

“Iya, sesudah dengar lagumu saya jadi ingin turut kamu ngamen. Kamu semestinya dapat masuk ke beberapa acara penelusuran talenta getho. Bisa gak jika saya turut kamu ngamen hari ini?”
“Saya sich oke saja kak, tetapi apa kakak tidak malu turut menjadi pengamen seperti saya?”
“Gapapa lah, saya anak band loh, jadi ini dapat menjadi salah satunya pengalaman untuk aku.”

Pada akhirnya sejauh tersisa malam itu saya dan Ningsih juga mengamen di sekitar pasar malam itu. Saya yang pegang gitar, Ningsih yang menyanyi. Memang betul apa yang disebutkannya. Ia kuasai beberapa lagu gereja. Kami benar-benar nikmati perjalanan kami. Jam 10 saya mengantarkan Ningsih pulang. Ternyata ia tinggal cuman bersama ibunya yang sakit di bawah jembatan dan bertetangga dengan beberapa orang memiliki nasib serupa dengannya. Saya mengharap malam itu ia berasa suka dan terberkati.

“Selamat Natal Ningsih. Mudah-mudahan Tuhan Yesus memberkatimu.”
“Terima kasih kak.”

Aku juga pulang dengan hati yang sejuk. Sejauh perjalanan sampai saat sebelum tidur saya mengulang-ulang memory itu sekalian tersenyum ingat spontanitasku ikutinya mengamen. Ternyata tempat ini tidak seburuk itu. Saya dapat rasakan kedatangan Tuhan melalui seorang pengamen. Kurasa Tuhan ingin menyadarkanku jika Dia dapat menjelma jadi siapa saja untuk memberikan karena untuk siapa saja.

Saya tertidur dengan hati gembira. Saat saya terjaga esok harinya, teman-temanku telah ramai di group LINE. Saya belum pahami apa yang dibahas.

Kubuka account sah band kami di IG, dan menyaksikan posting paling akhir dari penggemar yang men-tag group kami. Saat itu saya baru pahami kenapa teman-temanku ramai di LINE. Posting itu menyoroti kebersama-samaanku tempo hari malam bersama Ningsih. Kami kelihatan sedang menyanyi bersama sekalian tersenyum dibarengi caption “Ciee… cieee… Kak Jordan ikut-ikutan ngamen… Cocok sekali kak….”

Sebuah senyuman terukir di mukaku waktu betul-betul kubaca kembali di LINE apa yang teman-temanku bahas. Ternyata mereka memberi komentar perlakuanku.

“Edan gaes, simak dech post yang nge-tag kita. Jor, you surprised us!!”
“Saya tidak sangka Jordan yang cuek begini, mendadak lakukan kebaikan out of nowhere. Good job, Jor.”
“Saya jadi nyesel tidak turut Jordan ke rumah neneknya.”

Kurasa tidak berlibur ke Hongkong baik juga. Daripada habiskan uang untuk berkunjung Hongkong Disneyland dan semua tempat wisata, lebih bagus dekat sama keluarga. Berlibur ini kali benar-benar terkesan buatku. Mendapatkan teman dekat baru seorang pengamen.

Peristiwa Natal yang diperingati tiap tanggal 25 Desember ini tentunya memiliki kandungan beragam arti yang terkesan supaya anak-anak serta untuk kita dalami agar dapat kita aplikasikan dalam kehidupan. Yang paling paling penting ialah kebersama-samaan, kesederhanaan,dan kasih-sayang bersama beberapa orang yang kita sayangi dan di sekitar kita khususnya dalam rayakan ulang tahun Tuhan Yesus ini. Selamat rayakan Natal!

Progress Baca Artikel