Hari Raya Idul Adha, Sejarah dan Perayaannya di Indonesia

Latar Belakang

Hari Raya Idul Adha adalah salah satu hari raya besar dalam agama Islam, yang juga menjadi salah satu libur nasional di Indonesia. Hari ini menandai kenangan pengorbanan, yaitu ketika Ibrahim rela mengorbankan putranya, Ismail sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah. Namun, sebelum Ibrahim mengorbankan putranya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Untuk merayakan peristiwa penting ini, sapi, kerbau, atau kambing kemudian disembelih sebagai kurban setiap tahunnya.

Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari kesepuluh bulan Zellijah atau 70 hari setelah hari raya Idulfitri. Hari ini, bersama dengan hari-hari Tasyrik, merupakan hari di mana umat Islam dilarang berpuasa. Pada hari Idulfitri, umat Islam berkumpul di pagi hari dan melakukan shalat Idulfitri bersama di alun-alun atau di masjid. Usai shalat, hewan kurban kemudian disembelih. Sepertiga daging hewan tersebut dibagikan untuk keluarga yang mempersembahkan hewan kurban, dan sisanya disumbangkan atau dibagikan kepada orang lain. Idul adha juga umum dikenal sebagai Hari Raya Kurban atau Lebaran Haji.

Sejarah Idul Adha

Salah satu cobaan besar dalam hidup Ibrahim adalah ketika Ia menerima perintah Allah untuk mengorbankan putra kesayangannya. Saat itu Ibrahim menerima pesan ini melalui mimpi yang berulang-ulang. Ibrahim tahu bahwa ini adalah perintah dari Allah dan memberitahu anaknya seperti tertulis dalam Al Qur’an.

Perayaan hari raya idul adha sebagai salah satu hari libur nasional

Ketika anaknya sudah mencapai cukup umur, Ibrahim pun berkata: Wahai anakku! Sebenarnya, saya bermimpi bahwa saya mengorbankan kamu. Jadi pikirkanlah bagaimana menurutmu! Dia berkata: Wahai ayahku! Lakukan apa yang (Allah) perintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.

Selama masa persiapannya, setan mencobai Ibrahim dan keluarganya dengan mencoba menghalangi mereka untuk menjalankan perintah Allah. Kemudian Ibrahim mengusir setan itu dengan melemparkan kerikil ke arahnya. Untuk memperingati penolakan mereka terhadap setan ini, maka dilakukanlah lemparan jumrah selama ibadah haji.

Saat melakukan penyembelihan, pisau Ibrahim tidak bisa melukai Ismail. Kemudian Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan. “Ketika mereka berdua sudah berserah diri, Ia (Ibrahim) menempatkan putranya di pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Tuhan). Kemudian Allah memanggilnya: Wahai Ibrahim! Aku yakin dengan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sebenarnya, ini adalah ujian yang nyata. Allah menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Penetapan Hari Raya Idul Adha

Hari Raya Idula adha diadakan saat lebaran haji berlangsung. Basis haji adalah Wukuf di Arafah, sedangkan hari Wukuf dikenal sebagai Hari Arafah, dan dimulai pada hari kesembilan Dzul-Hijjah sampai fajar kesepuluh Dzul-Hijjah.

Dalam dalil hadits yang disampaikan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali, Amir Makkah menyampaikan khotbah dan kemudian berkata:

“Rasulullah Dia memerintahkan kami untuk melakukan haji berdasarkan Hisab dan Rukyat (Hilal Zulhijah). Jika kami tidak dapat melihatnya, maka ada dua saksi yang adil (yang melihatnya), maka kami harus melakukan Manasik berdasarkan kesaksian mereka.”

HR Abu Dawud, Al-Bayhaqi, putra Al-Darooqthani. Al-Darqutni berkomentar: “Hadits ini adalah rangkaian penyebaran yang berkelanjutan dan otentik.”

Hadits ini menjelaskan seputar urutan dalam hari raya idul adha, pertama, pelaksanaan haji harus didasarkan pada hasil bulan sabit 1 Zulhijah sehingga waktu Wukuf dan Iduladha-nya dapat ditentukan. Kedua: Pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Yang Mulia Amir Makkah dalam kapasitasnya sebagai penguasa wilayah, tempat diadakannya haji untuk melakukan Rukyat. Jika ini tidak berhasil, maka Rukyat orang lain, mengumumkan kesaksiannya kepada Amir Makkah.

Selain Hari Raya Kurban, Hari Raya Idul Adha juga disebut sebagai Lebaran Haji. Karena sejak 9 Dzulhijah, umat Islam yang menunaikan ibadah Haji sedang melaksanakan ritual haji yang paling utama yaitu wukuf di Padang Arafah.

Wukuf adalah ritual haji yang mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan aktivitasnya sejenak agar dapat merenungkan diri, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim setelah menerima perintah dari Allah SWT untuk mengorbankan anaknya, Nabi Ismail.

Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, disunnahkan untuk melakukan ibadah puasa Arafah pada tanggal yang sama, yaitu 9 Dzulhijah.