Awal Mula Sejarah Tahun Baru Masehi dan Tradisinya

Latar Belakang Tahun Baru Masehi

Tahun Baru Masehi adalah hari libur untuk menandai akhir tahun, dan juga untuk merayakan dimulainya perhitungan hari awal tahun depan. Sejarah tahun baru masehi ini dimulai dengan adanya kalender masehi yang saat ini dipakai, diadopsi setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma. Ia memutuskan untuk mengganti kalender Romawi kuno yang telah digunakan dari abad ketujuh Sebelum Masehi. Julius Caesar dan Senat Romawi kemudian memutuskan tanggal 1 Januari sebagai hari pertama kalender baru.

sejarah tahun baru masehi
Tahun Baru Masehi

Perayaan tahun baru sendiri pertama kali terjadi di Timur Tengah, 2000 Sebelum Masehi. Orang Mesopotamia merayakan pergantian tahun ketika matahari ada di atas khatulistiwa, atau tepatnya pada tanggal 20 Maret. Hingga saat ini, Iran terus merayakan tahun baru pada tanggal 20, 21, atau 22 Maret yang dikenal dengan sebutan Nowruz.

Dalam Sejarah tahun baru masehi, digunakan kalender Masehi, tahun baru pertama kali dirayakan pada 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan menjadi kaisar Roma, Ia memutuskan untuk mengganti kalender Romawi pada abad ketujuh Sebelum Masehi. Kata Januari berasal dari nama salah satu dewa dalam mitologi Romawi, yaitu dewa Janus. Buku New Year’s Eve (2007), karya Katie Kubesh, Niki McNeil, dan Kimm Bellotto, menjelaskan alasan mengapa nama Janus dipilih sebagai awal tahun baru dalam penanggalan Romawi modern dan adat Romawi kuno untuk merayakan pergantian tahun. Seperti yang dijelaskan di dalamnya, Dewa Janus memiliki dua wajah bolak-balik. Dalam kepercayaan Romawi, diyakini bahwa Janus adalah dewa awal dan juga dewa yang menjaga pintu masuk.

Perayaan Tahun Baru

Sejak pemberlakuan penanggalan baru, pada malam hari setiap tengah malam menjelang pergantian tahun, yakni 31 Desember, bangsa Romawi akan mengadakan pesta untuk menghormati Dewa Janus. Mereka mengira wajah Janus yang melihat tahun yang lama adalah wajah yang menatap hari-hari sebelum tahun baru.

Bangsa Romawi mulai mendistribusikan barang-barang mereka pada malam tahun baru. Menurut mereka, akhir tahun dan awal tahun yang baru adalah saat yang tepat untuk memberikan hadiah yang bermakna; biasanya berupa ranting dari pohon keramat, perak atau emas, sebagai simbol kegembiraan.

Berbagai jenis makanan pun disajikan dalam sejarah tahun baru masehi ini, terutama madu dan manisan yang konon merupakan simbol perdamaian. Rumah dan lingkungan dihiasi dengan lilin berwarna cerah dengan harapan bulan akan mengisi atau dunia akan bersinar tahun depan. Saat ini, mayoritas negara-nagara di dunia telah menggunakan kalender Masehi sebagai kalender standar mereka. Tahun Baru, mungkin sekarang adalah hari raya dan hari libur umum yang paling terkenal dan paling sering dirayakan. Umumnya masyarakat merayakan tahun baru dengan menyalakan kembang api beramai-ramai di tengah malam, di setiap zona waktu. Tidak lupa diikuti dengan resolusi tahun baru sambal bersyukur dan berkumpul bersama teman atau pun keluarga.

Sejarah tahun baru masehi lainnya adalah dilansir dari History, sejarah tahun baru masehi berawal pertama kali dilakukan untuk menghormati kedatangan tahun baru berasal dari sekitar 4.000 tahun yang lalu di Babilon kuno. Bagi orang Babilonia, bulan baru pertama setelah titik balik musim semi menandai dimulainya tahun baru.

Masyarakat Babilonia merayakan pergantian tahun itu dengan festival keagamaan yang disebut Akitu. Nama Akitu berasal dari kata Sumeria yang memiliki arti memotong musim semi.

Kegiatan tersebut selain dengan merayakan tahun baru, juga dilakukan untuk merayakan kemenangan mitos dewa langit Babilonia Marduk atas dewi laut yang jahat dan menjalankan tujuan politik yang penting.

Kejadian pada masyarat Babilon di atas juga menjadi salah satu praduga rujukan dari sejarah tahun baru masehi dan perayaannya.