Share Artikel

Share on facebook
Facebook
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email

Berikut Waktu Sholat Idul Adha Secara Sendirian atau Berjamaah berserta Niat

Waktu Sholat Idul Adha Sesuai Kemenag

Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan, Idul Adha 1442 H jatuh pada Selasa (30/7/2021) ini hari. Mengawali Idul Adha, umat Islam disarankan melakukan sholat Idul Adha.

Adapun waktu penerapan waktu sholat Idul Adha, diawali semenjak matahari keluar sampai masuk waktu zuhur.

Mengarah pada rutinitas orang Indonesia, shalat Idul Adha umumnya diadakan start pukul 07.00 waktu di tempat.

Walaupun beberapa ada yang mengawali pada jam 06.30 waktu di tempat.

Waktu Sholat Idul Adha

Sholat Idul Adha Disyariatkan Dilaksanakan Secara Berjamaah

Tetapi karena masih juga dalam situasi wabah, Kemenag menyarankan, sholat Idul Adha dikerjakan di dalam rumah.

Shalat Idul Adha dapat dikerjakan secara sendiri atau berjamaah dengan bagian keluarga lainnya.

Bilapun diadakan di mushola atau lapangan secara berjamaah, harus patuhi prosedur kesehatan dan khusus di daerah yang dibolehkan.

Berikut tutorial/kaifiat sholat Idul Adha diambil dari bengkulu.kemenag.go.id:

  1. Saat sebelum sholat Idul Adha, disunnahkan untuk perbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih.
  2. Shalat diawali dengan menyeru “ash-shalâta jâmi‘ah”, tanpa azan dan iqamah.
  3. Mengawali dengan niat sholat Idul Adha

Niat Sholat Idul Adha Sendiri

اُصَلِّى سُنُّةً عِيْدِ الْاَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ للهِ تَعَالَى

Usholli sunnatan ‘iidil adhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati lillaahi ta’aalaa

Maknanya: “Saya punya niat Sholat sunah Idul Adha dua rakaat menghadap kiblat karena Allah ta’ala.”

Niat Sholat Idul Adha Berjamaah

اُصَلِّى سُنُّةً عِيْدِ الْاَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًاإِمَامًا) للهِ تَعَالَى

Usholli sunnatan ‘iidil adhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati (makmuman/imaaman) lillaahi ta’aalaa

Maknanya: “Saya punya niat Sholat sunah Idul Adha dua rakaat menghadap kiblat (jadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

  1. Membaca takbiratul ihram (الله أكبر) sekalian mengusung ke-2 tangan.

Lalu membaca doa iftitah

اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Allaahu akbaru Kabiraa Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin.

Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.

Maknanya: Allah Maha Besar dengan sebesarnya, semua puji untuk Allah dengan sanjungan yang banyak. Maha Suci Allah di saat pagi dan petang.

Sebenarnya saya hadapkan mukaku ke Allah yang sudah membuat langit dan bumi dengan seluruh kepatuhan atau pada kondisi runduk, dan saya bukan dari kelompok beberapa orang yang menyekutukan-Nya.

  1. Membaca takbir sekitar 7x (di luar takbiratul ihram) dan antara setiap takbir itu disarankan membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

SubhanalLah wal-hamdu lil-Lah wa la ilaha ilal-Lahu wal-lahu Besar

Maknanya: Maha suci Allah, semua sanjungan bagi-Nya. Tidak ada tuhan terkecuali Allah, Allah Maha Besar.

  1. Membaca surah al-Fatihah, dilanjutkan membaca surah yang pendek dari Al Quran.
  2. Rukuk, iktidal (bangun dari rukuk), sujud, duduk antara dua sujud, dan sebagainya sampai berdiri kembali seperti sholat biasa.
  3. Pada rakaat ke-2 saat sebelum membaca al-Fatihah, disunnahkan takbir sekitar 5 kali sekalian mengusung tangan.

Di luar takbir saat berdiri (takbir qiyam) dan antara setiap takbir disunnahkan membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

SubhanalLah wal-hamdu lil-Lah wa la ilaha ilal-Lahu wal-lahu Besar

Maknanya: Maha suci Allah, semua sanjungan bagi-Nya. Tidak ada Tuhan terkecuali Allah, Allah Maha Besar.

  1. Membaca Surah al-Fatihah, dilanjutkan membaca surah yang pendek dari Alquran.
  2. Ruku, sujud, dan sebagainya sampai salam.
  3. Sesudah salam, disunnahkan dengarkan khutbah Idul Adha.

Berkaitan khutbah Idul Adha, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan, shalat Idul Adha bisa dilaksanakan tanpa khutbah.

Ketua MUI Sektor Ceramah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis menerangkan, jika sholat Idul Adha dilaksanakan sendiri, karena itu cuman jalankan shalatnya.

Bila berjamaah dengan keluarga, dapat dibarengi dengan khutbah atau mungkin tidak.

Cholil menerangkan, dalam penerapan shalat Idul Adha, benar ada shalat dan khutbah.

Tetapi, syahnya shalat Idul Adha dan Idul Fitri tidak bergantung pada khutbah.

Berlainan dengan shalat Jumat, tidak syah shalatnya jika tidak ada khutbah.

“Oleh karenanya, shalat Idul Adha dapat shalat saja tanpa khutbah.”

“Misalkan shalat sendiri, ia usai cuman kerjakan shalat,” kata Cholil lewat info tercatat, Senin (19/7/2021).

Tetapi untuk Anda yang ingin berkhutbah, berikut tutorial/kaifiat khutbah Idul Adha:

  1. Salam (Tanpa langsung duduk khutbah)
  2. Membaca takbir sekitar 9x
  3. Beri pujian Allah dengan sekurangnya membaca الحمد لله
  4. Membaca shalawat Nabi SAW, diantaranya dengan membaca اللهم صل على سيدنا محمد
  5. Berwasiat mengenai takwa
  6. Membaca ayat Al-Quran
  7. Berdoa untuk orang Mukmin dan Mukminah

Contoh Dokumen Khutbah Sholat Idul Adha di Rumah

Sesuai Surat Selebaran (SE) dari Kemenag, pengutaraan khutbah waktu sholat Idul Adha dilaksanakan dengan singkat, paling lama 15 menit.

Untuk Anda yang ingin berkhutbah atau bekerja memberi khutbah saat shalat Idul Adha, berikut contoh dokumen khutbah Idul Adha 1442 H/2021 dari Kemenag.

Khutbah Pertama

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ.

اْلحَمْدُ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنسْتغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ هَذَا الرَّسُوْلِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Allaahu Besar (x9) walillaahil-hamdu.

Alhamdullilahi nahmaduhu wa nastaii’nuhu wa nastaghfiruhu wa nauu’dzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi`aati a’maalinaa man yahdillahu falaa mudhillalahu, wa man yudhlil falaa haadiyalahuu.

Asyhadu an laaillaaha illallahu wahdahu laa syariika lahuu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu.

Allahumma shalli wasallim ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin haadzaar-rasuulil-kariimi wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi. Ammaa ba’d

Fayaa ‘ibaadallah, uushiikum wanafsii bitaqwallaahi faqad faazal-muttaquun

Allaahu Besar, Allaahu Besar, Allaahu Besar wa lillaahil-hamd.

Jemaah sholat Idul Adha yang bahagia.

Mari bersama kita tingkatkan iman dan taqwa ke Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebagus-baiknya, sama kita jalankan semua perintah Allah dan menjauhi dari semua larangan-Nya.

Mudah-mudahan Allah memberi panduan supaya kita dapat ada di jalan yang lempeng dan Allah memberi kemampuan, kesabaran ke kita saat menjalankan ujian di periode wabah Covid-19 ini.

Keluargaku semuanya yang bahagia. Ini hari kita rayakan Lebaran Idul Adha dengan penuh kebatasan.

Ketika pandemi masih tetap ada disekitaran kita, kita melakukan sholat Idul Adha di rumah sendiri.

Akan tetapi, ini tidak kurangi rasa sukur karena Allah masih memberi kesehatan ke semua bagian keluarga kita dengan nikmat kesehatan dan usia panjang.

Dengan mengucapkan syukur, sambil ucapkan Alhamdulillah, kita mengharap Allah terus menambahkan nikmat kita bersama, seperti firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

La in syakartum la aziidan-nakum wa la in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid

Maknanya: “Bila kalian mengucapkan syukur, karena itu benar-benar Saya bertambah untuk kamu (akan nikmat). Apabila kalian kufur, sebenarnya siksa-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Allahu Besar, Allahu Besar, Allahu Besar wa lillaahil-hamd.

Jemaah keluargaku yang dirahmati Allah. Pandemi Covid-19 masih tetap ada dari muka bumi, terhitung desa halaman kita.

Pandemi ini ialah ujian dari Allah. Karena itu, kita harus terus bersabar, jangan patah semangat dan berserah.

Usaha dan ikhtiyar harus terus dilaksanakan dengan melakukan prosedur kesehatan sebagus-baiknya.

Ibadah beribadah terus kita tambahkan, misalkan sholat, walau beberapa waktu dilaksanakan di dalam rumah, puasa, dan beribadah yang lain.

Juga sangat penting ialah share kebaikan kesemua orang, sama-sama membantu dengan saudara, dan tetangga kita.

Seandainya ada tetangga kita yang kebenaran sekarang ini terkena Covid-19, silahkan kita ulurkan tangan untuk menolong dan membantu mereka, bukan justru diasingkan.

Harta yang sekarang ini kita punyai sebenarnya harus kita membersihkan dengan kita bersedekah ke sama-sama yang memerlukan.

Keluargaku, berikut bukti riil kita berpasrah pada Allah dan minta bantuan pada Allah semata-mata, seperti Allah berfirman dalam surat Al Fatihah: 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin

Maknanya: “Cuman kepada-Mu, kami menyembah dan cuman kepada-Mu kami minta bantuan.”

Allaahu Besar, Allaahu Besar, Allaahu Besar wa lillaahil-hamd.

Keluargaku yang saya sayangi.

Usaha lahir harus terus dilaksanakan, mempertahankan kesehatan, patuhi ketentuan pemerintahan dengan melakukan prokes dan disiplin 5M, menggunakan masker, membersihkan tangan, jaga jarak, kurangi mobilisasi, dan menjauhi dari keramaian.

Usaha ini silahkan kita sempurnakan dengan tawakkal dan berdoa ke Allah si Maha Kholiq, ke Allah si Maha Rahman dan Kandungan.

Jangan sampai berasa jemu, capek dalam berdoa.

Karena, dengan doa, kita mengharap Allah memberi keselamatan pada bagian keluarga kita, tetangga kita, negara tersayang kita bahkan juga semua makhluk yang ada dari muka bumi ini, keselamtan dunia dan keselamatan akhirat.

رَبَّنَا آتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar

Maknanya: “Wahai Tuhan kami, berikan ke kami di bumi ini akan kebaikan dan begitupun di akhirat akan kebaikan. Dan lindungilah kami dari adzab neraka.”

Demikian khutbah singkat ini saya berikan, mudah-mudahan Allah Swt selalu menuntun bagian keluarga kita pada jalan yang diridai-Nya, Allah menjaga kita dari pandemi ini. Aamiin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ. إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Baarakallaahu lii wa lakum fil qur’anil ‘azhiim. Aquulu qawli haadza fastaghfirullaahal ‘azhiim. Innahuu huwal ghafuurur-rahiim

Khutbah Ke-2

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ،

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ. اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهُ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.اَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦوَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتْ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَالله, اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر.

Allaahu Besar

Allaahu Besar kabiiraa, wal-hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaanallaahi bukrataan wa ashiilaa. Laa ilaaha illallaahu wallaahu besar. Allaahu besar wa lillaahil-hamd.

Alhamdulillaahi amaranaa an-nushliha ma’iisyatanaa linailir-ridla was-sa’aadah, wa naquuma bil-waajibaati fi ‘ibaadatihi wa taqwaahu.

Wa asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu. Wa asyhadu anna Sayyidanaa Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluhuu. Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi wa sallim tasliimaan katsiiraa. Ammaa ba’d

Fayaa ayyuhaan-naas, ittaqullaaha haqqa tuqaatihii walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.

Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammad, wardla ‘annaa ma’aahum birahmatika yaa arhamar-raahimiin.

Allahummaghfir lil-mukminiina wal mukminaati, wal muslimiina wal muslimaati, al-ahyaa’i minhum wal amwaati, innaka samii’un qariibun mujiibud-da’awaat. Allahummadfa’annalbalaa’a wal waabaa’a waz-zalaazila wal-mihana wasuu’al fitnati, maa zhahara minhaa wa maa bathana, ‘an baladinaa Indonesia khaasshatan wa saa’iril-buldaanil muslimiina ‘aammatan, yaa Rabbal ‘aalamiin.

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa lanakuunanna minal-khaasiriina. Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan, wa fill aakhirati hasanatan, waqinaa ‘;adzaaban-naar.

‘Ibaadallaah, innallaaha ya’muru bil ‘adIi wal ihsaani, wa iitaa’i dzil-qurbaa wa yanhaa ‘anil-fahsyaa’i wal-munkari wal-baghyi, yai’zhukum la’allakum tadzakkaruun. Wadzkurullaahal ‘adziima yadzkurkum, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihi yazidkum, wa ladzikrullaahi besar.

Waktu penerapan sholat Idul Adha dikerjakan saat matahari keluar. Biasanya, bila diikuti sama waktu ialah sekitaran jam 07.00 WIB.

Begitu paparan singkat mengenai waktu sholat Idul Adha yang disarikan datang dari beragam sumber

Progress Baca Artikel